Lamun (seagrass)

1. Morfologi

Lamun memiliki perbedaan yang nyata dengan tumbuhan yang hidup terbenam dalam laut lainnya, seperti makro alga atau rumput laut (seaweeds). Tanaman lamun memiliki bunga dan buah yang kemudian berkembang menjadi benih. Pertumbuhan lamun sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor internal seperti kondisi fisiologis dan metabolisme; serta faktor eksternal, seperti zat-zat hara dan tingkat kesuburan perairan.

2. Habitat

Lamun tumbuh subur terutama di daerah terbuka pasang surut dan perairan pantai atau goba yang dasarnya berupa lumpur, pasir, kerikil, dan patahan karang mati, dengan kedalaman 4 meter. Padang lamun terbentuk di dasar laut yang masih ditembusi cahaya matahari yang cukup untuk pertumbuhannya.

3. Jenis Lamun

Di seluruh dunia diperkirakan terdapat sebanyak 55 jenis lamun, dimana di Indonesia ditemukan sekitar 12 jenis dominan. Hampir semua substrat dapat ditumbuhi lamun, mulai dari substrat berlumpur sampai berbatu. Namun padang lamun yang luas lebih sering ditemukan disubstrat lumpur-berpasir yang tebal antara hutan rawa mangrove dan terumbu karang (Bengen, 2002). Beberapa spesies seperti Thalassia testudinum secara ekstrim dapat bertumbuh dengan cepat, dengan laju pertumbuhan daun 2 cm per hari. Pertambahan panjang rhizoma, sesuai jenisnya, ada yang mencapai 100-200 cm per tahun (Keough & Jenkin, ….).

4. Fungsi

Ekosistem padang lamun berfungsi sebagai penyuplai energi, baik pada zona bentik maupun pelagis. Detritus daun lamun yang tua didekomposisi oleh sekumpulan jasad bentik (seperti teripang, kerang, kepiting, dan bakteri), sehingga dihasilkan bahan organik, baik yang tersuspensi maupun yang terlarut dalam bentuk nutrien. Nutrien tersebut tidak hanya bermanfaat bagi tumbuhan lamun, tetapi juga bermanfaat untuk pertumbuhan fitoplankton dan selanjutnya zooplankton, dan juvenil ikan/udang (Dahuri, 2003)

Amat banyak jenis biota laut lainnya hidup berasosiasi dengan lamun, seperti teripang, bintang laut, bulu babi, kerang, udang, dan kepiting. Duyung (Dugong dugon) adalah mamalia laut yang hidupnya amat bergantung pada makanannya berupa lamun. Penyu hijau (Chelonia mydas) juga dikenal sebagai pemakan lamun yang penting. Karena itu, rusak atau hilangnya habitat padang lamun akan menimbulkan dampak lingkungan yang luas.

Karena fungsi lamun tak banyak dipahami, banyak padang lamun yang rusak oleh berbagai aktivitas manusia. Luas total padang lamun di Indonesia semula diperkirakan 30.000 kilometer persegi, tetapi diperkirakan kini telah menyusut 30-40 persen.

5. Manfaat Lamun

Nilai pakai tidak langsung dari ekosistem padang lamun mencakup :

(1) fungsinya sebagai stabilisator sedimen yang mencegah erosi pesisir,

(2) habitat sejumlah besar spesies satwa liar, dan

(3) sumber makanan dan detritus organik yang dibutuhkan tumbuhan laut dan algae sebagaimana binatang.

Produktifitas primer kotor padang lamun menduduki rangking teratas di antara ekosistem alami yang pernah tercatat (Hatcher et al, 1989). Produktifitas primer ekosistem padang lamun dilaporkan antara 1.300 – 3.000 gram berat kering/m2/tahun (KLH, 1991), bahkan dapat mencapai 7.000 gramC/m2/tahun (Whitten et al, 1987). Karbon organik yang dihasilkan padang lamun melalui fotosistesis sebagian besar (70 – 90 %) digunakan oleh organisme laut pada tingkat trofik yang lebih tinggi melalui rantai makanan detritus dan sisanya melalui rantai langsung (Nienhuis, 1993). Ekosistem padang lamun umunya bersifat mandiri (self-sustaining), energi yang dihasilkan dari padang lamun di Indonesia Timur dikonsumsi sendiri dengan minimum 10 % dikirim ke ekosistem di sekitarnya pada kondisi yang tenang (Hutomo et al, 1988; Nienhuis et al, 1989; Lindeboom dan Sandee, 1989). Dugong, penyu hijau dan ikan Siganus merupakan pemangsa tumbuhan lamun dan rumput laut yang penting. Padang lamun dan habitat di sekitarnya merupakan daerah pakan yang juga penting bagi burung-burung laut (Polunin, 1983).

”Blue Carbon”

Awal Oktober 2009, tiga badan PBB, yakni UNEP, FAO, dan UNESCO, berkolaborasi meluncurkan laporan yang dikenal sebagai Blue Carbon Report. Laporan ini menggarisbawahi peranan laut sebagai pengikat karbon (blue carbon), sebagai tandingan terhadap peranan hutan daratan (green carbon) yang selama ini sangat mendominasi wacana dalam masalah pengikatan karbon dari atmosfer. Di seluruh laut terdapat tumbuhan yang dapat menyerap karbon dari atmosfer lewat fotosintesis, baik berupa plankton yang mikroskopis maupun yang berupa tumbuhan yang hanya hidup di pantai seperti di hutan mangrove, padang lamun, ataupun rawa payau (salt marsh). Meskipun tumbuhan pantai (mangrove, padang lamun, dan rawa payau) luas totalnya kurang dari setengah persen dari luas seluruh laut, ketiganya dapat mengunci lebih dari separuh karbon laut ke sedimen dasar laut.

Keseluruhan tumbuhan mangrove, lamun, dan rawa payau dapat mengikat 235-450 juta ton karbon per tahun, setara hampir setengah dari emisi karbon lewat transportasi di seluruh dunia.

Dengan demikian, penyelamatan ekosistem padang lamun sangat penting, dan tidak kalah strategis, dibandingkan dengan pengelolaan ekosistem terumbu karang yang sudah mulai mendunia dengan Coral Triangle Initiative atau ekosistem mangrove dengan Mangrove for the Future.

sumber:

http://coastaleco.wordpress.com

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/05/03332745/saatnya.peduli.padang.lamun

Satu pemikiran pada “Lamun (seagrass)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s